Kamis, 11 Desember 2014

Standarisasi dan Regulasi Telekomunikasi

Standarisasi dan Regulasi Telekomunikasi

Standarisasi sistem telekomunikasi dilakukan oleh lembaga yang secara khusus menangani masalah-masalah yang terkait dengan telekomunikasi. Pada dasarnya, adanya standar tersebut adalah untuk mengatur sistem telekomunikasi, baik yang menyangkut penggunaan frekuensi, alokasi (pengaturan tempat), kanal, dan sebagainya. Pengaturan itu dimuat dalam bentuk perundang-undangan. Contohnya, kalau di Indonesia adalah Undang-undang Telekomunikasi nomor 36 tahun 1999, yang telah disahkan oleh pemerintah Indonesia pada tanggal 8 September 1999.

Dalam undang-undang tersebut, yang diatur di antaranya adalah tentang penyelenggaraan telekomunikasi, perizinan, perangkat telekomunikasi, spektrum frekuensi radio, dan orbit satelit, serta pengamanan telekomunikasi dan sebagainya. Lebih lanjut, yang mengatur pertelekomunikasian di Indonesia, dilakukan oleh: Kementerian Komunikasi dan Informasi.
UNDANG-UNDANG TELEKOMUNIKASI
Undang-undang Telekomunikasi menetapkan pedoman bagi reformasi industri telekomunikasi, termasuk liberalisasi industri, kemudahan masuknya pemain baru, serta peningkatan transparansi dan persaingan. Undang-undang         Telekomunikasi hanya mengatur hal-hal yang bersifat umum. Peraturan pelaksanaannya diatur lebih lanjut dalam berbagai peraturan, keputusan menteri, serta keputusan Dirjen Postel.
     Undang-undang Telekomunikasi meniadakan konsep “badan penyelenggara” sehingga mengakhiri status Telkom dan  indosat sebagai badan penyelenggara yang bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan layanan telekomunikasi domestik dan internasional.      
Untuk meningkatkan persaingan, Undang-undang Telekomunikasi melarang praktik monopoli dan persaingan tidak wajar antar operator telekomunikasi.
Peran Pemerintah adalah sebagai pembuat kebijakan dan pengawas sektor telekomunikasi. Untuk memastikan transparansi dalam proses pembuatan regulasi sesuai Undang-undang Telekomunikasi. Sebuah badan regulasi independen, Badan regulasi Telekomunikasi  independen (BRTI) didirikan pada bulan  juli 2003 guna mengatur, memantau dan mengontrol industri telekomunikasi. BRTI terdiri dari para pejabat dari Ditjen Postel dan  komite regulasi Telekomunikasi serta diketuai oleh Dirjen Postel. Keputusan  menhub  no. 67/2003 mengatur hubungan antara menhub (yang bertanggungjawab atas pengaturan telekomunikasi sebelum dialihkan kepada menkominfo pada bulan Februari 2005), dan BRTI. Sebagai bagian dari fungsi pengatur, BRTI berwenang untuk:
(i) melaksanakan pemilihan atau evaluasi untuk pemberian lisensi jaringan dan layanan telekomunikasi sesuai dengan kebijakan menkominfo, dan
(ii) mengusulkan kepada  menkominfo mengenai standar kinerja operasi jaringan dan layanan telekomunikasi, standar kualitas layanan, biaya interkoneksi dan standardisasi
perangkat. Sebagai bagian dari fungsi pemantauan, BRTI berwenang memantau dan diharuskan melaporkan kepada menkominfo mengenai:
(i)               pelaksanaan standar kinerja operasi jaringan dan layanan telekomunikasi,
(ii)             persaingan antar operator jaringan dan layanan, dan
(iii)           kepatuhan terhadap penggunaan perangkat telekomunikasi sesuai dengan standar yang berlaku. Sebagai bagian dari fungsi pemantauan, BRTI diberi wewenang untuk memantau dan diharuskan untuk melaporkan kepada  menkominfo mengenai
(i)          bantuan penyelesaian sengketa antar operator jaringan dan layanan, dan
(ii)    pengendalian penggunaan perangkat telekomunikasi dan pelaksanaan standar kualitas layanan. keputusan BRTI dituangkan dalam bentuk keputusan Dirjen Postel.

Organisasi yang Mengatur Standar Sistem Telekomunikasi

Standarisasi dalam bidang telekomunikasi merupakan suatu hal yang sangat penting. Sekarang ini dikenal ada badan-badan atau organisasi yang menangani masalah standarisasi, yaitu: standarisasi tingkat nasional, regional, dan internasional.

Pada tingkat internasional, paling tidak dikenal ada dua badan internasional yang sangat berpengaruh pada bidang telekomunikasi. Badan itu adalah:
  1. ITU (International Telecommunication Union): bertempat di Geneva (Swiss), yang telah menghasilkan lebih dari 2000 standard.
  2. International Standardization Organization (ISO): badan ini mempunyai sejumlah standar komunikasi data yang sangat penting.

Persetujuan telekomunikasi internasional dan antar benua dilakukan oleh suatu lembaga yang disebut: International Telecommunication Union (ITU). Lembaga ini keberadaannya di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Dalam bahasa Inggris disebut: United Nations Organization (UNO)). Kantor ITU secara tetap berada di Geneva (Swiss). Badan-badan lain yang bernaung di bawah ITU, yaitu: Sekretariat Umum (General Secretariat), yang tugasnya mengelola aspek aktivitas administrasi dan ekonomi. Di samping itu ada badan pendaftaran frekuensi internasional (IFRB = International Frequency Registration Board) yang tugasnya adalah: bertanggung jawab terhadap koodinasi penerapan frekuensi radio dalam semua kategori.

Badan khusus lainnya yang melayani permasalahan dan pertanyaan tentang komunikasi radio, ditangani oleh: Comite Consultatif International des Radiocommunications (CCIR). Selain itu, ada badan Comite Consultatif International Telegraphique et Telephonique (CCITT) yang menangani masalah-masalah lain dalam bidang telekomunikasi. Badan tetap ini didukung oleh dewan administratif, yang terdiri dari 25 orang yang berasal dari negara-negara yang berpartisipasi.

Pertemuan dilaksanakan sekali dalam setahun, untuk berkoordinasi dalam pekerjaan yang berbeda dari badan lain. Selain itu setiap empat tahun sekali diadakan konferensi tingkat dunia, yang dilakukan oleh badan-badan itu untuk membicarakan masalah teknis, pelayanan, dan penarifan (pembiayaan) bidang telekomunikasi.

CCIR dan CCITT bekerja dengan koordinasi yang sangat erat untuk mengatasi berbagai permasalahan, agar dapat dirumuskan rekomendasi (pesetujuan) dalam bidang telekomunikasi tingkat dunia. Pada gambar 1.11, ditunjukkan kantor ITU yang berkedudukan di Jenewa. Sementara itu gambar 1.12, menunjukkan struktur organisasi telekomunikasi tingkat dunia, sebelum berubah menjadi ITU-T dan ITU-R. 
Gambar 1.11. Kantor ITU di Jenewa

Gambar 1.12. Organisasi tingkat dunia yang menangani masalah telekomunikasi

Dalam perkembangannya, ITU yang bernaung di bawah Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa membahas dan menghasilkan Regulasi Radio dan regulasi tentang Telekomunukasi.

Sebelumnya dikenal pula suatu badan internasional yang disebut CCITT atau International Consultative Committee for Telephone and Telegraph, dan CCIR atau International Consultative Committee for Radio. Pembahasan tentang regulasi atau aturan tentang radio dan telekomunikasi telah banyak menghasilkan dokumen, laporan, pendapat dan rekomendasi, atau saran-saran yang penting. Mengingat peran dari ITU yang demikian itu, maka pada tanggal 1 Januari 1993, lembaga itu mengadakan re-organisasi. Hasilnya adalah: CCITT menjadi sektor standarisasi telekomunikasi dari ITU, disingkat ITU-T. Sedangkan CCIR menjadi sektor radio komunikasi dari ITU, yang disingkat ITU-R. Tugas dari ITU-T dan ITU-R adalah menyiapkan aturan-aturan tentang per-telekomunikasian dan keradioan.

Selain badan internasional, organisasi regional yang cukup penting untuk wilayah Eropa, yaitu: Europian Telecommunication Standardization Institute (ETSI). Tanggung jawab dari lembaga ini adalah: pada spesifikasi pokok radio seluler GSM, atau Ground System Mobile (di Perancis). Sebelumnya, pada tahun 1990, ETSI adalah lembaga yang disebut: Conference European Post and Telegraph atau disingkat CEPT. Dalam kerjanya, CEPT telah menghasilkan jaringan digital PCM versi Eropa. Sebelumnya disebut dengan CEPT 30+2, dan sekarang menjadi E-1.

Di samping lembaga-lembaga standarisasi yang telah disebutkan itu, ada juga banyak organisasi yang mengurusi standarisasi secara nasional. Sebagai contoh yang dapat disebutkan pada postingan ini, yaitu: American National Standards Institute (ANSI) yang berkedudukan di kota New York. Karya yang dihasikan terkait dengan standarisasi yang cukup luas. Ada juga lembaga Electronics Industries Association (EIA) dan Telecommunication Industry Association (TIA). Kedua lembaga ini berada di Washington DC, yang saling berkaitan satu sama lain. Keduanya mempunyai tanggung jawab terhadap penyiapan dan penyebaran standar-standar telekomunikasi.

Lembaga tingkat dunia seperti Institute of Electrical and Electronic Engineers (IEEE), telah menghasilkan 802 seri spesifikasi standarisasi yang secara khusus ditekankan pada jaringan-jaringan perusahaan.

Lembaga Advanced Television Systems Committee (ATSC), merupakan lembaga yang menyetandarkan untuk kompresi video pada CATV (Cable Television), sebagaimana yang dikerjakan oleh kelompok sarjana teknik telekomunikasi. Kelompok lain yang penting adalah aliansi untuk solusi industri telekomunikasi.

Beberapa lembaga lain yang menyiapkan standarisasi berkenaan dengan telekomunikasi dan jaringan digital adalah Bellcore (Bell Communications Research, sekarang disebut Telcordia). Lembaga ini merupakan yang paling baik sebagai sumber standarisasi di America Utara. Standar-standar yang dikembangkan, terutama untuk perusahaan-perusahaan yang bernaung di bawah kerja regional Bell. Ada juga sejumlah forum yang terdiri dari sekelompok perusahaan dan pengguna yang bersama-sama merumuskan masalah standarisasi, seperti membicarakan masalah: frame relay, ATM, dan sebagainya. Seringkali standar yang dihasilkan ini diadopsi oleh CCITT, ANSI, dan ISO, serta lainnya

sumber klik

Multiple Access

Setelah memahami tentang macam-macam jaringan akses, selanjutnya sobat saya ajak memahami teknik penyampain informasi pada jaringan akses.

Pengertian Multiple Access
Teknik yang memungkinkan suatu titik (central station) untuk dapat diakses oleh beberapa titik yang saling berjauhan (subscriber station) dengan tidak saling mengganggu.

Sasaran utama Teknik Multiple Access
  1. Strategi Multiplexing.
  2. Bagaimana sirkit-sirkit individu digabungkan ke dalam spectrum radio sehingga memungkinkan banyak user dapat akses secara simultan.
  3. Channel Assignment.
  4. Bagaimana user diberi sirkit secara spesifik sesuai dengan kebutuhan. 
multiple access
Gambar. Model Multiple Access

Sistem duplexing
Sistem komunikasi dua arah disebut sistem : duplex.
Ada dua teknik sistem duplex yang populer, yaitu : FDD dan TDD


FDD, komunikasi arah kirim dan terima menggunakan frekuensi carrier yang berbeda dalam waktu (t) yang sama.



TDD, komunikasi arah kirim dan terima menggunakan frekuensi carrier yang sama tetapai menggunakan time slot yang berbeda.


Macam-macam Multiple Access

Teknik Multiple Access

  1. FDMA 
  2. Karakteristik FDMA : 
    • Frequency agility, terminal pelanggan harus mampu tuning ke salah satu frekuensi yang tersedia secara otomatis.
    • Simultaneous transmission and reception, diperlukan sirkit duplexer.
    • Narrowest transmission bandwidth, satu kanal dialokasikan + 30 kHz dan tidak fleksibel terhadap layanan baru.
    • Lower transmission overhead. Transmisi dalam kanal FDMA adalah kontinyu (hampir sama dengan transmisi carrier dalam sistem wireline). 
    • Handoff-complexity. Pelaksanaan handoff tanpa terjadi pemutusan hubungan amat sulit dilakukan.
    • Kapasitas sangat tergantung pada spectrum frequency atau bandwidth yang tersedia.
    • Untuk mencegah interferency antar kanal perlu guard band.

    FDMA
    Frequency Division Multiple Access
    (FDMA)
        Aplikasi Sistem FDMA

        • Contoh aplikasi FDMA adalah AMPS (Advanced Mobile Phone Services).
        • AMPS merupakan standard Amerika Utara, menggunakan dua band frekuensi masing-masing 25 MHz.
        • Komunikasi dari MS ke BTS (reverse link) menggunakan frekuensi : 824 – 849 MHz.
        • Komunikasi dari BTS ke MS (forward link) menggunakan frekuensi : 869 – 894 MHz.
        • Setiap kanal mempunyai bandwidt sebesar 30 kHz.
         
        Alokasi Kanal FDMA
      Alokasi Kanal FDMA
    1. TDMA
    2. Karakteristik TDMA :
      • Multiple circuits per RF carrier, multiplex system TDMA mulai dari 2 s/d 30 sirkit per RF carrier, tergantung aplikasinya.
      • Pemancaran dan penerimaan slot secara bergilir, Memungkinkan tidak digunakannya sirkit “duplexer” seperti yang diperlukan di dalam FDMA, diganti dengan “transmitting/ receiving switch” yang lebih sample.
      • Bandwidth transmission yang lebih besar, biasanya 20 s/d 300 kHz, dapat memperbaiki performansi akibat interferensi dan multipath fading, lebih fleksibel untuk layanan baru.
    Time Division Multiple Access 
     (TDMA)
    FDD TDMA

    FDD/TDMA
      Aplikasi Sistem TDMA
      • Contoh aplikasi TDMA adalah GSM (Global system for Mobile Communication).
      • GSM merupakan standard Eropa, menggunakan dua band frekuensi masing-masing 25 MHz.
      • Komunikasi dari MS ke BTS (reverse link) menggunakan frekuensi : 890 – 915 MHz.
      • Komunikasi dari BTS ke MS (forward link) menggunakan frekuensi : 935 – 960 MHz.
      • Setiap kanal (carrier) mempunyai bandwidth sebesar 200 kHz.
      • Bandwidth 25 MHz dibagi menjadi 124 carrier, setiap carrier dialokasikan 8 Time slot. Oleh sebab itu GSM mengaplikasikan teknik FDMA dan TDMA. 
    TDMA
    TDMA-Multi carrier
    Alokasi kanal TDMA-MC

           3. CDMA
               Karakteristik CDMA:
      • CDMA merupakan salah satu aplikasi teknologi Multiple Access Spread Spectrum.
      • Ada dua jenis sistem spread-spectrum : Direct Sequence (DS) dan Frequency Hoping (FH).
      • CDMA yang digunakan dalam sistem cellular menggunakan teknik “direct-sequence spread-spectrum” (DS-SS).
      • Dalam DS-SS transmitter, setiap signal informasi pelanggan dimodulasi dengan suatu PN code yang unik untuk men-spread sinyal informasi asli.
      • Dalam DS-SS receiver, sinyal spreading tersebut didemodulasi dengan PN code yang identik.
      • Ratio antara bandwidth dari “Spreading signal” terhadap sinyal informasi aslinya pada umumnya disebut : “PROCESSING GAIN”
    Code Division Multiple Access
    (CDMA)

    FDD CDMA
    FDD/CDMA

    sumber klik

    Komunikasi Radio

     Gelombang radio adalah satu bentuk dari radiasi elektromagnetik, dan terbentuk ketika objek bermuatan listrik dari gelombang osilator (gelombang pembawa) dimodulasi dengan gelombang audio (ditumpangkan frekuensinya) pada frekuensi yang terdapat dalam frekuensigelombang radio (RF; "radio frequency") pada suatu spektrum elektromagnetik, dan radiasi elektromagnetiknya bergerak dengan cara osilasi elektrik maupun magnetik.
    Gelombang elektromagnetik lain yang memiliki frekuensi di atas gelombang radio meliputisinar gammasinar-Xinframerahultraviolet, dan cahaya terlihat.
    Ketika gelombang radio dikirim melalui kabel kemudian dipancarkan oleh antena, osilasi dari medan listrik dan magnetik tersebut dinyatakan dalam bentuk arus bolak-balik dan voltase di dalam kabel. Dari pancaran gelombang radio ini kemudian dapat diubah oleh radio penerima (pesawat radio) menjadi signal audio atau lainnya yang membawa siaran dan informasi.
    Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran menyebutkan bahwa frekuensi radio merupakan gelombang elektromagnetik yang diperuntukkan bagi penyiaran dan merambat di udara serta ruang angkasa tanpa sarana penghantar buatan, merupakan ranah publik dan sumber daya alam terbatas. Seperti spektrum elektromagnetik yang lain, gelombang radio merambat dengan kecepatan 300.000 kilometer per detik. Perlu diperhatikan bahwa gelombang radio berbeda dengan gelombang audio.
    Gelombang radio merambat pada frekuensi 100,000 Hz sampai 100,000,000,000 Hz, sementara gelombang audio merambat pada frekuensi 20 Hz sampai 20,000 Hz. Pada siaran radio, gelombang audio tidak ditransmisikan langsung melainkan ditumpangkan pada gelombang radio yang akan merambat melalui ruang angkasa. Ada dua metode transmisi gelombang audio, yaitu melalui modulasi amplitudo (AM) dan modulasi frekuensi (FM).
    Meskipun kata 'radio' digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan alat penerima gelombang suara, namun transmisi gelombangnya dipakai sebagai dasar gelombang padatelevisiradioradar, dan telepon genggam pada umumnya.
    Penemuan Gelombang Radio
    Dasar teori dari perambatan gelombang elektromagnetik pertama kali dijelaskan pada 1873oleh James Clerk Maxwell dalam papernya di Royal Society mengenai teori dinamika medan elektromagnetik, berdasarkan hasil kerja penelitiannya antara 1861 dan 1865.
    Pada 1878 David E. Hughes adalah orang pertama yang mengirimkan dan menerima gelombang radio ketika dia menemukan bahwa keseimbangan induksinya menyebabkan gangguan ke telepon buatannya. Dia mendemonstrasikan penemuannya kepada Royal Society pada 1880 tapi hanya dibilang itu cuma merupakan induksi.
    Adalah Heinrich Rudolf Hertz yang, antara 1886 dan 1888, pertama kali membuktikan teori Maxwell melalui eksperimen, memperagakan bahwa radiasi radio memiliki seluruh properti gelombang (sekarang disebut gelombang Hertzian), dan menemukan bahwa persamaan elektromagnetik dapat diformulasikan ke persamaan turunan partial disebut persamaan gelombang.
    Penggunaan radio
                 Banyak penggunaan awal radio adalah maritim, untuk mengirimkan pesan telegraf menggunakan kode Morse antara kapal dan darat. Salah satu pengguna awal termasuk Angkatan Laut Jepang memata-matai armada Rusia pada saat Perang Tsushima di 1901. Salah satu penggunaan yang paling dikenang adalah pada saat tenggelamnya RMS Titanic pada1912, termasuk komunikasi antara operator di kapal yang tenggelam dan kapal terdekat, dan komunikasi ke stasiun darat mendaftar yang terselamatkan.
    Radio digunakan untuk menyalurkan perintah dan komunikasi antara Angkatan Darat dan Angkatan Laut di kedua pihak pada Perang Dunia II; Jerman menggunakan komunikasi radio untuk pesan diplomatik ketika kabel bawah lautnya dipotong oleh Britania. Amerika Serikat menyampaikan Empat belas Pokok Presiden Woodrow Wilson kepada Jerman melalui radio ketika perang.
    Siaran mulai dapat dilakukan pada 1920-an, dengan populernya pesawat radio, terutama di Eropa dan Amerika Serikat. Selain siaran, siaran titik-ke-titik, termasuk telepon dan siaran ulang program radio, menjadi populer pada 1920-an dan 1930-an.
    Penggunaan radio dalam masa sebelum perang adalah pengembangan pendeteksian dan pelokasian pesawat dan kapal dengan penggunaan radar
    Sekarang ini, radio banyak bentuknya, termasuk jaringan tanpa kabelkomunikasi bergerak di segala jenis, dan juga penyiaran radio. Baca sejarah radio untuk informasi lebih lanjut.
    Sebelum televisi terkenal, siaran radio komersial termasuk dramakomedi, beragam show, dan banyak hiburan lainnya; tidak hanya berita dan musik saja. Lihat pemrograman radio.
    C.  Sistem Komunikasi Radio
             Tingkat kebutuhan manusia terhadap informasi akhir-akhir ini semakin meningkat. Peningkatan kebutuhan ini ternyata menimbulkan masalah terutama bagaimana informasi ini dapat tersampaikan dengan baik. Kita semua mungkin sudah tau bahwa cara yang paling efektif dalam penyampaian informasi ini terutama untuk jarak yang sangat jauh adalah dengan gelombang radio. Namun cara ini tentu tidak serta merta begitu mudah untuk digunakan.
              Komunikasi radio merupakan hubungan komunikasi yang mempergunakan media udara dan menggunakan gelombang radio sebagai sinyal pembawa. Suatu perangkat sistem komunikasi radio sedikitnya terdiri dari 3 bagian utama yaitu : pesawat radio, antena, danpower supply. Pesawat radio merupakan bagian utama yang berfungsi mengirim dan menerima informasi dalam bentuk gelombang suara. Perangkat radio pada dasarnya terbagi menjadi 2 yaitu bagian pemancar (transmitter) dan bagian penerima (receiver). Kedua bagian ini menjadi satu kesatuan dengan fungsinya masing-masing (transceiver).
    Keuntungan dan kerugian telekomunikasi dengan menggunakan radio, diantaranya adalah :
    1. Keuntungan
               Dapat mengimplementasikan (deployment) lebih mudah & cepat
               Bersifat lebih ekonomis
               Dapat menjangkau lokasi yang jauh
    2. Kerugian
               Rentan terhadap interferensi dari frekuensi lain yang dapat mengganggu komunikasi
               Faktor cuaca mempengaruhi sifat perambatan gelombang radio

    Dalam sistim komunikasi dengan menggunakan gelombang radio masalah utama yang dihadapi adalah terbatasnya alokasi frekuensi radio yang digunakan sehingga penggunanya harus benar-benar terkendali. Nah jika ini tidak bisa di atasi maka semakin banyak komunikasi yang terputus. Kemajuan teknologi kedepan adalah bagaimana mengefisienkan pemakaian lebar bidang frekuensi yang digunakan.
    Untuk menjawab permasalahan tersebut ada beberapa solusi yang di kemukan yaitu dengan menggunakan akses jamak yaitu pemakaian bersama dalam frekuensi yang sama. Tiga akses jamak yang yang di gunakan yaitu teknik akses jamak pembagian frekuensi (FDMA,Frequency Division Multiple Accses), teknik akses jamak pembagian waktu (TDMA, Time Division Multiple Accses), dan teknik akses jamak pembagian sandi (CDMA, Code Division Multiple Accses). Gambar berikut menunjukan perbedaan masing-masing dari teknik tersebut :
    1. Frequency Division Multiple Accses (FDMA)
    FDMA atau teknik akses jamak pembagian frekuensi adalah teknik yang dalam pengaturan frekuensinya dibagi menjadi beberapa kanal atau saluran frekuensi yang lebih sempit. Para pengguna akan mendapat kanal frekuensi yang berbeda untuk berkomunikasi secara bersamaan. Pengalokasian frekuensi pada FDMA sangat eklusif artinya kanal frekuensi yang telah digunakan seseorang tidak dapat dipakai oleh pengguna yang lain. Kanal frekuensi itu kemudian dipisahkan lagi dengan kanal frekuensi yang lebih sempit lagi (guard band) yang bertujuan untuk menghindari interferensi antar kanal yang berdekatan (adjacent channel) agar menempati alokasi frekuensi yang diberikan. Ilustrasi berikut menjelaskan bagaiman FDMA bekerja :
    Ilustrasi cara kerja teknik FDMA
    2. Time Division Multiple Accses (TDMA)
    TDMA atau akses jamak pembagian waktu adalah teknik yang menggunakan rentang frekuensi secara keseluruhan namun dibatasi dalam waktu yang relative singkat yang disebut slot waktu (Time slot). Tiap pengguna akan di berikan slot waktu yang berulang secara periodis dan hanya di izinkan mengirim informasi pada slot waktu yang telah di tentukan. Antar slot waktu diberi jeda waktu (guard time) untuk menghindari interferensi antar pengguna. Ilustrasi berikut menjelaskan bagaimana TDMA bekerja :
    Ilustrasi cara kerja teknik TMDA
    3.Code Division Multiple Accses (CDMA)
    CDMA atau akses jamak pembagian sandi adalah teknik yang menggunakan frekuensi yang sama dalam waktu yang bersamaan tetapi menggunakan sandi yang unik yang saling orthogonal. Sandi-sandi yang diberikan akan membedakan pengguna yang satu dengan pengguna yang lainnya. Ketika jumlah pengguna besar, maka bidang frekuensi yang diberikan akan ada banyak sinyal pengguna sehingga tingkat interferensi antar pengguna juga akan semkain meningkat. Pada kondisi ini akan menurunkan kemampuan kerja dari system. Ini berarti kapasitas dan kualitas system di batasi oleh daya interferensi yang timbul pada lebar bidang frekuensi yang digunakan.
    CDMA merupakan akses jamak yang menggunakan prisnsip komunikasi yang menggunakan prinsip komunikasi spectrum tersebar. Isyarat bidang dasar yang hendak dikirim disebar dengan menggunakan isyarat dengan lebar bidang besar yang disebut sebagai isyarat penyebar (spreading signal). Metoda ini dapat dianalogikan seperti sekolompok orang berkomunkasi dalam suatu ru  angan tetapi dengan bahasa yang berbeda, sehingga pembicaraan pasangan satu dengan pasangan yang lainya seperti suara kipas karena tidak diketahui maknanya. Ketika jumlah pengguna yang berkomunikasi dalam ruangan meningkat maka ruangan akan menjadi bising dan sudah pasti ini tidak akan kondusif lagi untuk berkomunikasi. Agar jumlah komunikasi bisa maksimal maka kuat tiap pembicaraan diatur tidak boleh keras.  Ilustrasi berikut akan menjelaskan bagaimana CDMA bekerja :
    Ilustrasi cara kerja teknik CMDA
    Ketiga teknik di atas merupakan dasar dari teknologi seluler sekarang yang kita kenal seperti CDMA dan GSM yang menggunakan teknik TDMA.

    Sistem komunikasi ini tidak menggunakan kawat dalam proses perambatannya, melainkan menggunakan udara atau ruang angkasa sebagai bahan penghantar. Secara garis besar sistem ini adalah sebuah pemancar Tx yang memancarkan dayanya menggunakan antena ke arah tujuan, sinyal yang dipancarkan berbentuk gelombang elektromagnetis. Pada penerima gelombang elektromagnetik ini diterima oleh sebuah antena yang sesuai. Sinyal yang diterima kemudian diteruskan ke sebuah pesawa penerima Rx.
    Gelombang elektromagnet pertama kali diturunkan oleh Maxwell dalam rumus-rumusnya. Kemudian dikembangkan oleh Hertz, yang menunjukkan bahwa energi dapat disalurkan dalam bentuk elektromagnet.
    Gelombang elektromangnet dicirikan oleh frekuensinya. Dimana kecepatan penjalarannya rata-rata 300.000 km/detik. Panjang gelombangnya dapat dihitung :
    (f dalam Hertz)
    Berdasarkan sifat-sifat perambatannya, frekuensi-frekuensi radio dapat dibagi dalam beberapa daerah atau band pada tabel berikut ini :
    Nama
    Frekuensi
    Panjang
    Gelombang
    Nama
    Very Low Frequency (VLF)
    < 30 kHz
    > 10 km
    Gelombang Myriametrik
    Low Frequency (LF)
    30 – 300 kHz
    1 – 10 km
    Gelombang kilometer
    Medium Frequency (MF)
    300 – 3.000 kHz
    100 – 1.000 m
    Gelombang hektometer
    High Frequency (HF)
    3 – 30 MHz
    10 – 100 m
    Gelombang dekameter
    Very High Frequency (VHF)
    30 – 300 MHz
    1 – 10 m
    Gelombang meter
    Ultra High Frequency (UHF)
    300 – 3.000 MHz
    10 – 100 cm
    Gelombang decimeter
    Super High Frequency (SHF)
    3 – 30 GHz
    1 – 10 cm
    Gelombang sentimeter
    Extremely High Frequency (EHF)
    30 – 300 GHz
    1 – 10 mm
    Gelombang milimeter


    sumber klik or klik

    Pengikut